Kelas III sudah usai dan kami study tour ke Yogya. Sebelumnya kelas sudah membuat kaos seragam warna biru tua dengan huruf 3C besar di depan. Disekelilingnya ada nama anak-anak satu kelas dengan nama gaul ciptaan Arif. Diantaranya ada sebuah nama tertera End’s. Yes it’s me!
Kami ke Kraton Yogya, candi-candi bersejarah dan monumen Yogya Kembali. Lalu setelah berganti dari seragam sekolah ke kaos seragam masing-masing kelas. Tibalah kami di pantai parangtriris. Wow indahnya!
Saking asyiknya, aku sampai dicariin karena jalan-jalannya kejauhan dan membuat panik pak guru. Daaaan aku benar-benar menikmati acara plesir ini loh. Tidak seperti ketika di SD dulu. Sudah ah jangan diingat-ingat peristiwa mengenaskan itu lagi.
Di bis, rombongan kelasku paling asyik deh. Soalnya ES dan ganknya nyanyi-nyanyi ala rocker di bangku belakang. Udah gitu lampunya dimatiin lagi. Jadi seperti di café saja. Tapi asyik. Sumpah!
Pulangnya aku dijemput ibu dan Iwe. Lalu pulang naik beca. Karena rumah Binti Solehah terlalu jauh dan tidak ada yang menjemput. Aku menawarinya menginap di rumah. Tapi ditengah jalan tiba-tiba ada orang yang menghadang beca. Rupanya ayah Binti bisa menjemput dan mengajaknya pulang. Akhirnya Binti batal menginap di rumah.
Thursday, April 12, 2007
PINGSAN
Jangan sampai kita kena sakit gigi deh. Sakit banget dan bikin kacau semuanya. Gara-gara sakit gigi, semalaman aku tidak bisa tidur. Senut….senut…..bolak-balik….ga bisa tidur.
Pas upacara bendera, aku merasa badanku sudah tidak enak. Ingin mundur malu. Akhirnya karena tidak kuat, aku minta mundur dengan diantar teman. Sampai barisan belakang, aku langsung rubuh. Walaupun jatuh, tapi aku masih sadar kalau badanku digotong.
Dan akhirnya aku dirawat di ruang UKS. Malunya………ga lagi-lagi deh!
Satu lagi aku pernah pingsan karena ditabrak ES. Pas pelajaran olah raga, tanpa sengaja ES yang bermain-main dengan salah satu temannya, menabrakku. Aku langsung berkunang-kunang dan BRUUK !
Sekaliiiii lagi aku masuk ruang UKS.
Pas upacara bendera, aku merasa badanku sudah tidak enak. Ingin mundur malu. Akhirnya karena tidak kuat, aku minta mundur dengan diantar teman. Sampai barisan belakang, aku langsung rubuh. Walaupun jatuh, tapi aku masih sadar kalau badanku digotong.
Dan akhirnya aku dirawat di ruang UKS. Malunya………ga lagi-lagi deh!
Satu lagi aku pernah pingsan karena ditabrak ES. Pas pelajaran olah raga, tanpa sengaja ES yang bermain-main dengan salah satu temannya, menabrakku. Aku langsung berkunang-kunang dan BRUUK !
Sekaliiiii lagi aku masuk ruang UKS.
SEPEDA JENGKI
Dari kelas satu aku memakai sepeda mini bekas mba Ci yang dicat ulang sama mas Dw. Tadinya sih aku senangs-senang saja memakainya. Tapi lama-lama, aku merasa tidak sreg dan ingin berganti sepeda yang baru. Soalnya bel sepeda mini itu sangat berisik sekali dan membuatku malu. Apalagi kalau aku pulang lewat gowok dan melewati jalan-jalan berbatu. Pasti deh bel itu jadi berisik sekali.
Tapi Bapak belum mempunyai uang untuk membeli sepeda baru seperti keinginanku. Tapi aku terus membujuk Bapak dan Ibu agar aku dibelikan sepeda jenki. Waktu itu, mas Dw yang bekerja di Batam juga sudah mulai mengirim uang untuk Ibu. Aku lalu meminta Ibu agar memakai uang kiriman itu untuk membeli sepeda baru.
Setelah lama tidak dikabulkan, akhirnya aku dapat juga sepeda jengki warna hijau hitam yang keren sekali.
Tapi Bapak belum mempunyai uang untuk membeli sepeda baru seperti keinginanku. Tapi aku terus membujuk Bapak dan Ibu agar aku dibelikan sepeda jenki. Waktu itu, mas Dw yang bekerja di Batam juga sudah mulai mengirim uang untuk Ibu. Aku lalu meminta Ibu agar memakai uang kiriman itu untuk membeli sepeda baru.
Setelah lama tidak dikabulkan, akhirnya aku dapat juga sepeda jengki warna hijau hitam yang keren sekali.
MAIN MONOPOLI, BOBO DAN GADIS
Suatu hari SW mengajakkku main ke rumah Wulan. Tenyata rumah Wulan adalah tempat kerja mas Bjo. Engga nyangka deh aku bisa bermain sejauh itu dan menjadi tahu tempat kerja mas Bjo.
Di rumah Wulan kami makan sup jambu biji. Enak sekali. Dan kami diajari main monopoli. Asyik banget loh sampai tak terasa waktu sudah sore.
Wulan ternyata juga mempunyai banyak majalah bobo dan gadis. Dari bobo yang harganya Rp 15,- sampai Rp 65,-. Jadul banget deh.
Kami meminjam majalah-majalah itu banyak-banyak untuk dibawa pulang. Tengkyu Wulan!
Sampai rumah aku bercerita sama mba Ci dan Iwe tentang permainan monopoli yang mengasyikan. Akhirnya mereka tertarik dan mulailah Iwe melancarkan serangan ke Ibu dan Simbah agar dibelikan monopoli.
Di rumah Wulan kami makan sup jambu biji. Enak sekali. Dan kami diajari main monopoli. Asyik banget loh sampai tak terasa waktu sudah sore.
Wulan ternyata juga mempunyai banyak majalah bobo dan gadis. Dari bobo yang harganya Rp 15,- sampai Rp 65,-. Jadul banget deh.
Kami meminjam majalah-majalah itu banyak-banyak untuk dibawa pulang. Tengkyu Wulan!
Sampai rumah aku bercerita sama mba Ci dan Iwe tentang permainan monopoli yang mengasyikan. Akhirnya mereka tertarik dan mulailah Iwe melancarkan serangan ke Ibu dan Simbah agar dibelikan monopoli.
Menari lagi?….Oh No
Semua murid harus ikut salah satu extra kurikuler. Dan dari dari semua pilihan yang sebenarnya tidak kuminati, terpaksa aku ikut kegiatan menari setiap hari sabtu. Udah gitu kita juga harus memakai celana selutut biar bebas dalam bergerak.
Aku oleh Ibu dibelikan celana selutut warna coklat, sedang mba Ci ikut kebagian warna merah. Aku lalu memakainya dengan kaos loreng biru putih yang kudapatkan dari sepupu yang tinggal di Bali.
Setiap hari sabtu aku bersama SW ( yang sejak itu jadi sangat akrab ) mengikuti kegiatan menari. Yang aku ingat, kami diajari tari kipas. Dan temanku yang bernama Wulanlah yang akhirnya menarikan tari itu di sebuah kegiatan di kecamatan yang sangat bergengsi. Sedang aku….? Huehehehheh…. seperti biasa putus ditengah jalan dan tidak mengikuti kegiatan itu sampai selesai.
Aku oleh Ibu dibelikan celana selutut warna coklat, sedang mba Ci ikut kebagian warna merah. Aku lalu memakainya dengan kaos loreng biru putih yang kudapatkan dari sepupu yang tinggal di Bali.
Setiap hari sabtu aku bersama SW ( yang sejak itu jadi sangat akrab ) mengikuti kegiatan menari. Yang aku ingat, kami diajari tari kipas. Dan temanku yang bernama Wulanlah yang akhirnya menarikan tari itu di sebuah kegiatan di kecamatan yang sangat bergengsi. Sedang aku….? Huehehehheh…. seperti biasa putus ditengah jalan dan tidak mengikuti kegiatan itu sampai selesai.
KRING….KRING ….GOES….GOES….
Huehehheh. Bersepeda ria.
Tadinya aku mau diantar sekolah naik beca sama Simbah tiap hari. Aku tergeli-geli mendengarnya, masa sih harus diantar Simbah. Padahal aku sudah membayangkan ke sekolah naik sepeda seperti mba Ci yang juga naik sepeda ke sekolah, tapi SMP yang berbeda denganku.
Setelah yakin aku berani naik sepeda, maka pergilah tiap hari aku naik sepeda. Dari rumah berangkat jam 06.15. dan pulang jam 13.00 atau 13.30.
Dari pintu gerbang sekolah, sepeda harus dituntun sampai ke tempat parkir yang memanjang dari depan sampai belakang. Pokoknya panjang banget dan selalu penuh.
Oh yah, aku mulai akrab lagi dengan temanku TK dulu. Namanya SW. Walaupun badanku termasuk kecil, tapi badan SW lebih kecil lagi dariku. SW dan Wuri ( salah satu teman SD-ku ) rumahnya lebih jauh dari rumahku, tapi karena searah, SW yang sebelumnya hanya akrab dengan Wuri, lama-lama mengenal aku dan kami setiap hari pulang bareng. Bertiga sambil bercanda di jalan kami bernostalgia masa-masa TK. Tapi karena ganjil, posisinya bersepeda jadi engga enak. Biasanya aku selalu sendiri didepan atau di belakang Wuri dan SW. Bete deh. Mereka bercanda-canda sambil pegangan tangan. Sedang akunya bengong sendirian. Huhhhhh sebel.
Lalu aku mulai akrab dengan teman sekelas, namanya Riana. Tenyata Ibu kenal dengan nenek riana lho. Rumah Riana lor tetek. Karena setiap hari lewat di jalan depan rumahnya, kadang aku bertemu dan berangkat bareng dengannya. Dan akhirnya aku senang karena pas pulang sekolah, aku tidak jomblo lagi dan punya pasangan bersepeda.
Ternyata SW marah padaku karena aku berakrab-akrab dengan Riana. Sempat lho SW bilang “cemburu” kepada Riana. Dan sambil tertawa Riana sempat meminta maaf pada SW karena telah merebut aku dari SW. Apaan juga? Pikirku. Masa cuma aku punya pasangan bersepeda, SW harus marah. Tapi ada enaknya juga. Riana memang jarang pulang bareng lagi, tapi SW terus menjadi pasangan tetap bersepedaku dan membiarkan Wuri mencari pasangan lainnya.
Ketika banyak kecelakaan lalu lintas dan merenggut korban anak-anak sekolah yang bersepeda. Aku dan SW jadi takut melewati jalan raya dan mencari jalan alternatif. Kami lalu sering menerobos jalan-jalan penduduk dan menemukan tempat-tempat yang mengasyikan. Kami juga tahu rumah temanku yang bernama Arif.
Tadinya aku mau diantar sekolah naik beca sama Simbah tiap hari. Aku tergeli-geli mendengarnya, masa sih harus diantar Simbah. Padahal aku sudah membayangkan ke sekolah naik sepeda seperti mba Ci yang juga naik sepeda ke sekolah, tapi SMP yang berbeda denganku.
Setelah yakin aku berani naik sepeda, maka pergilah tiap hari aku naik sepeda. Dari rumah berangkat jam 06.15. dan pulang jam 13.00 atau 13.30.
Dari pintu gerbang sekolah, sepeda harus dituntun sampai ke tempat parkir yang memanjang dari depan sampai belakang. Pokoknya panjang banget dan selalu penuh.
Oh yah, aku mulai akrab lagi dengan temanku TK dulu. Namanya SW. Walaupun badanku termasuk kecil, tapi badan SW lebih kecil lagi dariku. SW dan Wuri ( salah satu teman SD-ku ) rumahnya lebih jauh dari rumahku, tapi karena searah, SW yang sebelumnya hanya akrab dengan Wuri, lama-lama mengenal aku dan kami setiap hari pulang bareng. Bertiga sambil bercanda di jalan kami bernostalgia masa-masa TK. Tapi karena ganjil, posisinya bersepeda jadi engga enak. Biasanya aku selalu sendiri didepan atau di belakang Wuri dan SW. Bete deh. Mereka bercanda-canda sambil pegangan tangan. Sedang akunya bengong sendirian. Huhhhhh sebel.
Lalu aku mulai akrab dengan teman sekelas, namanya Riana. Tenyata Ibu kenal dengan nenek riana lho. Rumah Riana lor tetek. Karena setiap hari lewat di jalan depan rumahnya, kadang aku bertemu dan berangkat bareng dengannya. Dan akhirnya aku senang karena pas pulang sekolah, aku tidak jomblo lagi dan punya pasangan bersepeda.
Ternyata SW marah padaku karena aku berakrab-akrab dengan Riana. Sempat lho SW bilang “cemburu” kepada Riana. Dan sambil tertawa Riana sempat meminta maaf pada SW karena telah merebut aku dari SW. Apaan juga? Pikirku. Masa cuma aku punya pasangan bersepeda, SW harus marah. Tapi ada enaknya juga. Riana memang jarang pulang bareng lagi, tapi SW terus menjadi pasangan tetap bersepedaku dan membiarkan Wuri mencari pasangan lainnya.
Ketika banyak kecelakaan lalu lintas dan merenggut korban anak-anak sekolah yang bersepeda. Aku dan SW jadi takut melewati jalan raya dan mencari jalan alternatif. Kami lalu sering menerobos jalan-jalan penduduk dan menemukan tempat-tempat yang mengasyikan. Kami juga tahu rumah temanku yang bernama Arif.
Wednesday, April 4, 2007
PEMBAGIAN KELAS YANG TIDAK ADIL!
Begitu MOS selesai, kelas yang sebenarnya dibagi lagi. Dan kelas I C yang kudapat, sepertinya disusun berdasarkan rangking NEM yang masuk ke sekolah mulai yang teratas. Hmmmm….aku jadi under dog nih di antara murid-murid pintar lainnya. Tapi bukannya bangga karena aku masuk ke kelas yang paling pintar, aku malah jadi jengkel dan sedih. Karena semua teman SD ku tidak ada yang satu kelas dan aku jadi tidak punya teman.
Aku ketakutan.
Semua anak kelas C pada pintar-pintar dan semuanya punya teman dari SD-nya. Aku sampai hampir menangis dan berdoa terus setiap hari agar susunan kelas itu berubah atau aku bisa pindah ke kelas A, B, D atau E, dimana ada teman SD ku berkumpul. Tapi pas nyadar kalau itu sudah ditentukan sekolah dan aku mau tak mau harus dikelas itu, akhirnya aku menyerah dan berusaha kerasan kelasku. Dan sebenarnya aku tidak seorang diri juga di kelas itu karena sang juara I di SD, satu kelas denganku.
“ Tapi kan dia cowok, mana bisa sebangku dan jadi teman bermainku,” jeritku ngeyel.
Aku ketakutan.
Semua anak kelas C pada pintar-pintar dan semuanya punya teman dari SD-nya. Aku sampai hampir menangis dan berdoa terus setiap hari agar susunan kelas itu berubah atau aku bisa pindah ke kelas A, B, D atau E, dimana ada teman SD ku berkumpul. Tapi pas nyadar kalau itu sudah ditentukan sekolah dan aku mau tak mau harus dikelas itu, akhirnya aku menyerah dan berusaha kerasan kelasku. Dan sebenarnya aku tidak seorang diri juga di kelas itu karena sang juara I di SD, satu kelas denganku.
“ Tapi kan dia cowok, mana bisa sebangku dan jadi teman bermainku,” jeritku ngeyel.
MOS ?
Selama satu minggu. Kita masih pake seragam SD dan harus mengikuti serangkaian acara sebelum pelajaran sebenarnya dimulai. Tapi acaranya senang-senang saja kok dan tidak ada acara pemloncoan atau acara sadis dari kakak kelas.
Kalau tidak salah ingat aku satu kelas dengan teman TK dulu, tapi karena terpisah 6 th di SD. Kami seperti tidak saling kenal. Dan kami saling lihat2an saja tanpa ada yang berani mengajak mengobrol terlebih dahulu.
Kalau tidak salah ingat aku satu kelas dengan teman TK dulu, tapi karena terpisah 6 th di SD. Kami seperti tidak saling kenal. Dan kami saling lihat2an saja tanpa ada yang berani mengajak mengobrol terlebih dahulu.
RAZIA
Suatu hari ada kegiatan kerja bakti, semua anak-anak melakukan acara bersih-bersih di luar kelas. Aku dengan enggan ikut kegiatan yang engga mengenakan itu. Bukan kenapa-kenapa sih sebenarnya. Aku cuma malas karena aku baru saja dapat pinjam buku wiro sableng dari SW dan ingin segera membacanya. Ceritanya kelihatannya seru lagi.
Dan ketika acara kerja bakti usai. Aku bingung karena tidak menemukan buku itu lagi di tas. What happen! Kemana larinya buku itu? Kelimpungan aku mencarinya sampai ke kolong-kolong meja. Aku jadi mangap ketika ada berita dari ketua osis kalau tadi ada razia dikelas. Jangan-jangan buku wiro itu kena razia. Padahal buku itu dipinjam SW dari penyewaan buku.
Ketika kuceritakan ke SW, aku tidak perlu mengganti buku itu. Tapi aku jadi takut memakai tas yang saat itu kupakai karena takut dikenali guru sebagai murid yang suka membawa bacaan selain buku pelajaran sekolah. Terpaksa aku memensiunkan tas hijau-putih itu dan berganti dengan tas ku yang lain.
Selama beberapa hari, terus-terusan kami deg-degan takut dipanggil guru karena membawa buku novel. Tapi lama-lama kami sudah terbiasa lagi karena ternyata tidak ada orang yang dipanggil oleh pak guru. Malahan sang ketua osis akhirnya meminjamiku buku agastha Christie yang oke punya. Makasih pak! Ternyata ada hikmah dibalik razia…! Huehehehehehh…..!
Dan ketika acara kerja bakti usai. Aku bingung karena tidak menemukan buku itu lagi di tas. What happen! Kemana larinya buku itu? Kelimpungan aku mencarinya sampai ke kolong-kolong meja. Aku jadi mangap ketika ada berita dari ketua osis kalau tadi ada razia dikelas. Jangan-jangan buku wiro itu kena razia. Padahal buku itu dipinjam SW dari penyewaan buku.
Ketika kuceritakan ke SW, aku tidak perlu mengganti buku itu. Tapi aku jadi takut memakai tas yang saat itu kupakai karena takut dikenali guru sebagai murid yang suka membawa bacaan selain buku pelajaran sekolah. Terpaksa aku memensiunkan tas hijau-putih itu dan berganti dengan tas ku yang lain.
Selama beberapa hari, terus-terusan kami deg-degan takut dipanggil guru karena membawa buku novel. Tapi lama-lama kami sudah terbiasa lagi karena ternyata tidak ada orang yang dipanggil oleh pak guru. Malahan sang ketua osis akhirnya meminjamiku buku agastha Christie yang oke punya. Makasih pak! Ternyata ada hikmah dibalik razia…! Huehehehehehh…..!
SMP : ARDI-ekskul yang engga banget!
Ada anak kelas III yang keren abis. Cakep, pintar, bisa menyanyi dan jago olah raga. Namanya Ardi.
Setiap Ardi bersama bandnya di ruang serba guna, pasti ada cewek-cewek yang mencuri-curi untuk melihat dia latihan. Termasuk aku. Suatu saat aku melihat dia sedang menyanyikan lagu koes plus BIS SEKOLAH. Wow gayanya keren banget loh.
Terus karena Ardi senang main bulutangkis, dia lalu mengajar anak kelas I di ekskul bulutangkis. Tanpa angin tanpa hujan, tiba-tiba SW mengajakku ekskul bulutangkis. Apa!!!
Seumur-umur aku belum pernah pegang raket. Walaupun di rumah, mas Dw, mba Ci atau Iwe suka main raket pake papan, tapi aku tidak pernah ikut mereka bermain. Aku paling tidak suka olah raga.
Tapi karena SW niat banget mengajakku dan bela-belain meminjamkan raketnya yang lumayan bagus. Akhirnya aku mau juga ikut latihan. Daaaaaan apa yang terjadi kemudian sodara-sodara ( tapiii tidak usah repot-repot membayangkan deh. Karena kejadian berikutnya tidak penting banget dan yang pasti suangaaaaat memalukan abisssss…!!! )
Kami berdua tiba di GOR dan sudah ada Ardi disana. Malu-malu kucing, aku dan SW ikut pemanasan. Tapiiiiii pas acara intinya, yaitu acara tepok bulu angsa, jangankan mengembalikan suttlecock yang mengarah ke aku, menerimanya pun aku tidak sanggup. Suttlecocknya terbang kemana, akunya larinya kemana. Engga nyambung. Malunyaaaaaaa….! Mana Ardi hanya senyum-senyum saja melihatku pontang-panting mengejar angin.
Akhirnya aku marah-marah ke SW dan tidak mau lagi ikut ekskul bulutangkis. Memalukan saja. SW yang kepayahan dan nafasnya ngos-ngosan pun ikut mengangguk setuju. Dia juga menyerah kalah kalau harus mengejar suttlecock dan Ardi sekaligus.
Akhirnya niat PDKT jadi buyar dan kami tidak pernah berani dekat-dekat atau menampakkan diri di hadapan Ardi lagi. Ohhhh nasiiiiib!
Setiap Ardi bersama bandnya di ruang serba guna, pasti ada cewek-cewek yang mencuri-curi untuk melihat dia latihan. Termasuk aku. Suatu saat aku melihat dia sedang menyanyikan lagu koes plus BIS SEKOLAH. Wow gayanya keren banget loh.
Terus karena Ardi senang main bulutangkis, dia lalu mengajar anak kelas I di ekskul bulutangkis. Tanpa angin tanpa hujan, tiba-tiba SW mengajakku ekskul bulutangkis. Apa!!!
Seumur-umur aku belum pernah pegang raket. Walaupun di rumah, mas Dw, mba Ci atau Iwe suka main raket pake papan, tapi aku tidak pernah ikut mereka bermain. Aku paling tidak suka olah raga.
Tapi karena SW niat banget mengajakku dan bela-belain meminjamkan raketnya yang lumayan bagus. Akhirnya aku mau juga ikut latihan. Daaaaaan apa yang terjadi kemudian sodara-sodara ( tapiii tidak usah repot-repot membayangkan deh. Karena kejadian berikutnya tidak penting banget dan yang pasti suangaaaaat memalukan abisssss…!!! )
Kami berdua tiba di GOR dan sudah ada Ardi disana. Malu-malu kucing, aku dan SW ikut pemanasan. Tapiiiiii pas acara intinya, yaitu acara tepok bulu angsa, jangankan mengembalikan suttlecock yang mengarah ke aku, menerimanya pun aku tidak sanggup. Suttlecocknya terbang kemana, akunya larinya kemana. Engga nyambung. Malunyaaaaaaa….! Mana Ardi hanya senyum-senyum saja melihatku pontang-panting mengejar angin.
Akhirnya aku marah-marah ke SW dan tidak mau lagi ikut ekskul bulutangkis. Memalukan saja. SW yang kepayahan dan nafasnya ngos-ngosan pun ikut mengangguk setuju. Dia juga menyerah kalah kalau harus mengejar suttlecock dan Ardi sekaligus.
Akhirnya niat PDKT jadi buyar dan kami tidak pernah berani dekat-dekat atau menampakkan diri di hadapan Ardi lagi. Ohhhh nasiiiiib!
KETUA KELAS YANG BANDEL
ES menjadi ketua kelas. Baru kali ini ada ketua kelas yang dipilih karena kelakuannya yang bandel. Tapi pihak sekolah mungkin ingin membuat ES menjadi anak baik dengan menjadikannya ketua kelas. Tapi memang terjadi beberapa kejadian heboh sih karena ulah sang ketua kelas.
Dengan sepeda jengki ini, aku pernah pergi menengok ES yang sakit karena kecelakaan. Kebetulan paginya aku bertemu dengan Atik yang mengatakan kalau ES sakit. Begitu aku mengatakan kepada teman-teman sekelas. Mereka mau mengoknya.
Kami pun berboncengan pergi ke rumah ES.
Tapi dasar badanku yang payah. Sepeda baruku akhirnya malah dipakai Arif dan Agung, sedang aku cukup dibonceng teman memakai sepeda mini. Aduh….mana keren….!!!
Dengan sepeda jengki ini, aku pernah pergi menengok ES yang sakit karena kecelakaan. Kebetulan paginya aku bertemu dengan Atik yang mengatakan kalau ES sakit. Begitu aku mengatakan kepada teman-teman sekelas. Mereka mau mengoknya.
Kami pun berboncengan pergi ke rumah ES.
Tapi dasar badanku yang payah. Sepeda baruku akhirnya malah dipakai Arif dan Agung, sedang aku cukup dibonceng teman memakai sepeda mini. Aduh….mana keren….!!!
LOMBA MELUKIS DI KRATON YOGYA
Dan ketika ada lomba melukis, aku diberi kuponnya dari majalah Bobo oleh Gita. Dengan kupon itu, aku, Ibu dan Iwe berangkat ke Yogyakarta mengikuti lomba melukis yang diadakan di Kraton Yogya.
Aku menginap dirumah saudara yang di Yogya dan paginya, Mas Dw yang bekerja di Yogya menjemput Iwe pakai motor hijau dari kantor, sedang aku dan Ibu naik beca ke alun-alun Yogya.
Iwe mengikuti lomba sendiri dan melukis pemandangan. Aku, Mas Dw dan Ibu hanya menunggu di luar. Sambil menunggu pengumuman, kami dihibur tarian Didik Nini Towok yang kocak dan bagus banget. Aku juga sempat melihat Sri Sultan bersama Ratu yang menyaksikan pertunjukkan tarian itu. Tapi ternyata Iwe belum menang dan kami pulang diantar mas Dw sampai stasiun Yogya.
Aku menginap dirumah saudara yang di Yogya dan paginya, Mas Dw yang bekerja di Yogya menjemput Iwe pakai motor hijau dari kantor, sedang aku dan Ibu naik beca ke alun-alun Yogya.
Iwe mengikuti lomba sendiri dan melukis pemandangan. Aku, Mas Dw dan Ibu hanya menunggu di luar. Sambil menunggu pengumuman, kami dihibur tarian Didik Nini Towok yang kocak dan bagus banget. Aku juga sempat melihat Sri Sultan bersama Ratu yang menyaksikan pertunjukkan tarian itu. Tapi ternyata Iwe belum menang dan kami pulang diantar mas Dw sampai stasiun Yogya.
TUGU MISTERIUS DI TENGAH ALUN-ALUN
Di sudut alun-alun kota ada sebuah tugu yang sangat misterius. Orang-orang yang lewat dibawahnya, sudah lama menduga-duga fungsi dari tugu yang besar dan tinggi itu sampai-sampai tersebar selentingan yang aneh-aneh tentang tugu itu.
Ketika guru menari berhalangan hadir. Bersama SW, Lisa dan teman-teman yang lain, aku bersepeda keliling kota. Entah kenapa putar-putar kami berakhir di bawah tugu misterius itu.
Kami saling pandang sebelum memutuskan naik ke tugu itu. Setelah mengunci sepeda-sepeda kami dengan aman, secara bersama-sama kami menuju ke bawah tangga dengan jantung berdebar-debar.
Lalu setelah merasa berani, kami mulai naik ke tangga yang melingkar-lingkar di luar tugu itu menuju ke atas. Angin sangat kencang menyambut kedatangan kami, membuat baju-baju kami tersingkap. Setelah beberapa meter naik keatas, beberapa dari kami mulai takut dan merasa kedinginan.
Ketika tiba-tiba ada hembusan angin yang cukup besar, kami menjerit ketakutan dan cepet-cepetan berebutan turun kebawah. Kami buru-buru mengambil sepeda dan kembali ke sekolah. Dengan nafas memburu kami sampai ke halaman sekolah. Kami saling menyalahkan kenapa tanpa komando lari tunggang langgang turun ke bawah. Padahal dengan ketinggian tugu itu, perbuatan kami sangat berbahaya sekali. Setelah semua berkumpul dan keadaan sudah tenang, kami mulai tertawa-tawa geli sambil mengingat kejadian barusan. Ternyata kami tidak bisa menguak misteri yang menyelimuti tugu misterius di tengah alun-alun itu.
Ketika guru menari berhalangan hadir. Bersama SW, Lisa dan teman-teman yang lain, aku bersepeda keliling kota. Entah kenapa putar-putar kami berakhir di bawah tugu misterius itu.
Kami saling pandang sebelum memutuskan naik ke tugu itu. Setelah mengunci sepeda-sepeda kami dengan aman, secara bersama-sama kami menuju ke bawah tangga dengan jantung berdebar-debar.
Lalu setelah merasa berani, kami mulai naik ke tangga yang melingkar-lingkar di luar tugu itu menuju ke atas. Angin sangat kencang menyambut kedatangan kami, membuat baju-baju kami tersingkap. Setelah beberapa meter naik keatas, beberapa dari kami mulai takut dan merasa kedinginan.
Ketika tiba-tiba ada hembusan angin yang cukup besar, kami menjerit ketakutan dan cepet-cepetan berebutan turun kebawah. Kami buru-buru mengambil sepeda dan kembali ke sekolah. Dengan nafas memburu kami sampai ke halaman sekolah. Kami saling menyalahkan kenapa tanpa komando lari tunggang langgang turun ke bawah. Padahal dengan ketinggian tugu itu, perbuatan kami sangat berbahaya sekali. Setelah semua berkumpul dan keadaan sudah tenang, kami mulai tertawa-tawa geli sambil mengingat kejadian barusan. Ternyata kami tidak bisa menguak misteri yang menyelimuti tugu misterius di tengah alun-alun itu.
end’s VS end’w
Dikelas C, ternyata ada ada dua nama endang tapi orangnya sangaaaaaat berlawanan. Yang satu anak seorang dokter yang terkenal, yang satu hanya anak seorang pegawai biasa. Yang satu badannya sangat subur, sedang yang satunya kurus seperti kekurangan gizi. Kalau berdiri berdampingan, kedua endang itu kaya angka 10. Coba tebak mana endang yang hobinya membaca dan merupakan pemilik blog ini?
Oleh kekreatifan Arif sang ketua kelas, kelak dialah yang menjuluki aku dan endang satunya dengan sebutan end’s dan end’w lalu mencetaknya dalam kaos perpisahan SMP berwarna biru tua yang sangaaaaat berkesan. Nama itu kupakai sampai sekarang dan menjadi ENDSU.
Oleh kekreatifan Arif sang ketua kelas, kelak dialah yang menjuluki aku dan endang satunya dengan sebutan end’s dan end’w lalu mencetaknya dalam kaos perpisahan SMP berwarna biru tua yang sangaaaaat berkesan. Nama itu kupakai sampai sekarang dan menjadi ENDSU.
JATUH DARI POHON PEPAYA
Akhirnya aku menyenangi kelas C, aku sebangku dengan seorang cewek berambut panjang yang rumahnya Bayem. Namanya Furi.
Tempat duduk kami selalu bergeser setiap hari supaya adil dan aku paling tidak suka kalau mendapat giliran duduk dibangku depan. Grogi dan takut sama guru yang galak.
Aku masih ingat ketika dapat giliran duduk di bangku depan, ada berita kalau temanku yang bernama Sopyan jatuh dari pohon pepaya dan menderita patah tangan. Lagian pohon pepaya kok dinaikin. Engga ada kerjaan yah?
Tapi bukan berita itu yang bikin ngeri. Pada saat aku mendengar berita itu, mendadak mataku kabur dan tidak bisa melihat. Tulisan di ujung pensilku sampai tidak kelihatan sama sekali. Aku takut tapi tidak berani mengatakan pada siapa-siapa. Dan aku menyadari kalau mulai saat itu…badanku jadi bau. Ih….syerem!
Tempat duduk kami selalu bergeser setiap hari supaya adil dan aku paling tidak suka kalau mendapat giliran duduk dibangku depan. Grogi dan takut sama guru yang galak.
Aku masih ingat ketika dapat giliran duduk di bangku depan, ada berita kalau temanku yang bernama Sopyan jatuh dari pohon pepaya dan menderita patah tangan. Lagian pohon pepaya kok dinaikin. Engga ada kerjaan yah?
Tapi bukan berita itu yang bikin ngeri. Pada saat aku mendengar berita itu, mendadak mataku kabur dan tidak bisa melihat. Tulisan di ujung pensilku sampai tidak kelihatan sama sekali. Aku takut tapi tidak berani mengatakan pada siapa-siapa. Dan aku menyadari kalau mulai saat itu…badanku jadi bau. Ih….syerem!
MENDAFTAR SMP DIANTAR IBU
Ketika yang lain mendaftar ke SMP sendirian atau bersama teman-teman. Aku beda sendiri. Aku mendaftar ke SMP favorit yang sejak dulu jadi inceran semua anak SD ditemani Ibu. Ibu menunggui aku di depan pintu kelas saat aku menulis formulir pendaftaran. Hehehehehh
Malu juga sih sebetulnya, karena jarang ada orang tua yang ikut ketika anaknya mendaftar. Tapi bangga juga loh, Ibu mau mengantarku mendaftar ke SMP. Dan akhirnya aku diterima juga.
Malu juga sih sebetulnya, karena jarang ada orang tua yang ikut ketika anaknya mendaftar. Tapi bangga juga loh, Ibu mau mengantarku mendaftar ke SMP. Dan akhirnya aku diterima juga.
Subscribe to:
Comments (Atom)