Thursday, April 12, 2007

PERPISAHAN YANG TAK TERLUPAKAN

Kelas III sudah usai dan kami study tour ke Yogya. Sebelumnya kelas sudah membuat kaos seragam warna biru tua dengan huruf 3C besar di depan. Disekelilingnya ada nama anak-anak satu kelas dengan nama gaul ciptaan Arif. Diantaranya ada sebuah nama tertera End’s. Yes it’s me!

Kami ke Kraton Yogya, candi-candi bersejarah dan monumen Yogya Kembali. Lalu setelah berganti dari seragam sekolah ke kaos seragam masing-masing kelas. Tibalah kami di pantai parangtriris. Wow indahnya!

Saking asyiknya, aku sampai dicariin karena jalan-jalannya kejauhan dan membuat panik pak guru. Daaaan aku benar-benar menikmati acara plesir ini loh. Tidak seperti ketika di SD dulu. Sudah ah jangan diingat-ingat peristiwa mengenaskan itu lagi.

Di bis, rombongan kelasku paling asyik deh. Soalnya ES dan ganknya nyanyi-nyanyi ala rocker di bangku belakang. Udah gitu lampunya dimatiin lagi. Jadi seperti di café saja. Tapi asyik. Sumpah!

Pulangnya aku dijemput ibu dan Iwe. Lalu pulang naik beca. Karena rumah Binti Solehah terlalu jauh dan tidak ada yang menjemput. Aku menawarinya menginap di rumah. Tapi ditengah jalan tiba-tiba ada orang yang menghadang beca. Rupanya ayah Binti bisa menjemput dan mengajaknya pulang. Akhirnya Binti batal menginap di rumah.

PINGSAN

Jangan sampai kita kena sakit gigi deh. Sakit banget dan bikin kacau semuanya. Gara-gara sakit gigi, semalaman aku tidak bisa tidur. Senut….senut…..bolak-balik….ga bisa tidur.

Pas upacara bendera, aku merasa badanku sudah tidak enak. Ingin mundur malu. Akhirnya karena tidak kuat, aku minta mundur dengan diantar teman. Sampai barisan belakang, aku langsung rubuh. Walaupun jatuh, tapi aku masih sadar kalau badanku digotong.

Dan akhirnya aku dirawat di ruang UKS. Malunya………ga lagi-lagi deh!

Satu lagi aku pernah pingsan karena ditabrak ES. Pas pelajaran olah raga, tanpa sengaja ES yang bermain-main dengan salah satu temannya, menabrakku. Aku langsung berkunang-kunang dan BRUUK !

Sekaliiiii lagi aku masuk ruang UKS.

SEPEDA JENGKI

Dari kelas satu aku memakai sepeda mini bekas mba Ci yang dicat ulang sama mas Dw. Tadinya sih aku senangs-senang saja memakainya. Tapi lama-lama, aku merasa tidak sreg dan ingin berganti sepeda yang baru. Soalnya bel sepeda mini itu sangat berisik sekali dan membuatku malu. Apalagi kalau aku pulang lewat gowok dan melewati jalan-jalan berbatu. Pasti deh bel itu jadi berisik sekali.

Tapi Bapak belum mempunyai uang untuk membeli sepeda baru seperti keinginanku. Tapi aku terus membujuk Bapak dan Ibu agar aku dibelikan sepeda jenki. Waktu itu, mas Dw yang bekerja di Batam juga sudah mulai mengirim uang untuk Ibu. Aku lalu meminta Ibu agar memakai uang kiriman itu untuk membeli sepeda baru.
Setelah lama tidak dikabulkan, akhirnya aku dapat juga sepeda jengki warna hijau hitam yang keren sekali.

MAIN MONOPOLI, BOBO DAN GADIS

Suatu hari SW mengajakkku main ke rumah Wulan. Tenyata rumah Wulan adalah tempat kerja mas Bjo. Engga nyangka deh aku bisa bermain sejauh itu dan menjadi tahu tempat kerja mas Bjo.

Di rumah Wulan kami makan sup jambu biji. Enak sekali. Dan kami diajari main monopoli. Asyik banget loh sampai tak terasa waktu sudah sore.

Wulan ternyata juga mempunyai banyak majalah bobo dan gadis. Dari bobo yang harganya Rp 15,- sampai Rp 65,-. Jadul banget deh.
Kami meminjam majalah-majalah itu banyak-banyak untuk dibawa pulang. Tengkyu Wulan!

Sampai rumah aku bercerita sama mba Ci dan Iwe tentang permainan monopoli yang mengasyikan. Akhirnya mereka tertarik dan mulailah Iwe melancarkan serangan ke Ibu dan Simbah agar dibelikan monopoli.

Menari lagi?….Oh No

Semua murid harus ikut salah satu extra kurikuler. Dan dari dari semua pilihan yang sebenarnya tidak kuminati, terpaksa aku ikut kegiatan menari setiap hari sabtu. Udah gitu kita juga harus memakai celana selutut biar bebas dalam bergerak.

Aku oleh Ibu dibelikan celana selutut warna coklat, sedang mba Ci ikut kebagian warna merah. Aku lalu memakainya dengan kaos loreng biru putih yang kudapatkan dari sepupu yang tinggal di Bali.
Setiap hari sabtu aku bersama SW ( yang sejak itu jadi sangat akrab ) mengikuti kegiatan menari. Yang aku ingat, kami diajari tari kipas. Dan temanku yang bernama Wulanlah yang akhirnya menarikan tari itu di sebuah kegiatan di kecamatan yang sangat bergengsi. Sedang aku….? Huehehehheh…. seperti biasa putus ditengah jalan dan tidak mengikuti kegiatan itu sampai selesai.

KRING….KRING ….GOES….GOES….

Huehehheh. Bersepeda ria.
Tadinya aku mau diantar sekolah naik beca sama Simbah tiap hari. Aku tergeli-geli mendengarnya, masa sih harus diantar Simbah. Padahal aku sudah membayangkan ke sekolah naik sepeda seperti mba Ci yang juga naik sepeda ke sekolah, tapi SMP yang berbeda denganku.

Setelah yakin aku berani naik sepeda, maka pergilah tiap hari aku naik sepeda. Dari rumah berangkat jam 06.15. dan pulang jam 13.00 atau 13.30.
Dari pintu gerbang sekolah, sepeda harus dituntun sampai ke tempat parkir yang memanjang dari depan sampai belakang. Pokoknya panjang banget dan selalu penuh.

Oh yah, aku mulai akrab lagi dengan temanku TK dulu. Namanya SW. Walaupun badanku termasuk kecil, tapi badan SW lebih kecil lagi dariku. SW dan Wuri ( salah satu teman SD-ku ) rumahnya lebih jauh dari rumahku, tapi karena searah, SW yang sebelumnya hanya akrab dengan Wuri, lama-lama mengenal aku dan kami setiap hari pulang bareng. Bertiga sambil bercanda di jalan kami bernostalgia masa-masa TK. Tapi karena ganjil, posisinya bersepeda jadi engga enak. Biasanya aku selalu sendiri didepan atau di belakang Wuri dan SW. Bete deh. Mereka bercanda-canda sambil pegangan tangan. Sedang akunya bengong sendirian. Huhhhhh sebel.

Lalu aku mulai akrab dengan teman sekelas, namanya Riana. Tenyata Ibu kenal dengan nenek riana lho. Rumah Riana lor tetek. Karena setiap hari lewat di jalan depan rumahnya, kadang aku bertemu dan berangkat bareng dengannya. Dan akhirnya aku senang karena pas pulang sekolah, aku tidak jomblo lagi dan punya pasangan bersepeda.

Ternyata SW marah padaku karena aku berakrab-akrab dengan Riana. Sempat lho SW bilang “cemburu” kepada Riana. Dan sambil tertawa Riana sempat meminta maaf pada SW karena telah merebut aku dari SW. Apaan juga? Pikirku. Masa cuma aku punya pasangan bersepeda, SW harus marah. Tapi ada enaknya juga. Riana memang jarang pulang bareng lagi, tapi SW terus menjadi pasangan tetap bersepedaku dan membiarkan Wuri mencari pasangan lainnya.
Ketika banyak kecelakaan lalu lintas dan merenggut korban anak-anak sekolah yang bersepeda. Aku dan SW jadi takut melewati jalan raya dan mencari jalan alternatif. Kami lalu sering menerobos jalan-jalan penduduk dan menemukan tempat-tempat yang mengasyikan. Kami juga tahu rumah temanku yang bernama Arif.

Wednesday, April 4, 2007

PEMBAGIAN KELAS YANG TIDAK ADIL!

Begitu MOS selesai, kelas yang sebenarnya dibagi lagi. Dan kelas I C yang kudapat, sepertinya disusun berdasarkan rangking NEM yang masuk ke sekolah mulai yang teratas. Hmmmm….aku jadi under dog nih di antara murid-murid pintar lainnya. Tapi bukannya bangga karena aku masuk ke kelas yang paling pintar, aku malah jadi jengkel dan sedih. Karena semua teman SD ku tidak ada yang satu kelas dan aku jadi tidak punya teman.

Aku ketakutan.

Semua anak kelas C pada pintar-pintar dan semuanya punya teman dari SD-nya. Aku sampai hampir menangis dan berdoa terus setiap hari agar susunan kelas itu berubah atau aku bisa pindah ke kelas A, B, D atau E, dimana ada teman SD ku berkumpul. Tapi pas nyadar kalau itu sudah ditentukan sekolah dan aku mau tak mau harus dikelas itu, akhirnya aku menyerah dan berusaha kerasan kelasku. Dan sebenarnya aku tidak seorang diri juga di kelas itu karena sang juara I di SD, satu kelas denganku.

“ Tapi kan dia cowok, mana bisa sebangku dan jadi teman bermainku,” jeritku ngeyel.